Aspirasi Papua Mengemuka Saat UNGA 81, Indonesia Perkuat Keamanan dan Jalur Pembangunan

Aspirasi Papua Mengemuka Saat UNGA 81, Indonesia Perkuat Keamanan dan Jalur Pembangunan

Isu Papua kembali disuarakan melalui sejumlah aksi dan kegiatan politik menjelang peringatan 64 tahun peristiwa yang...

JAKARTA, 29 September 2026 — Isu Papua kembali disuarakan melalui sejumlah aksi dan kegiatan politik menjelang peringatan 64 tahun peristiwa yang disebut kelompok pro-kemerdekaan sebagai Rome Agreement . Pada saat bersamaan, aparat Indonesia meningkatkan pengawasan keamanan setelah ditemukannya paket berisi senapan dan perlengkapan lain di Bandara Wamena, Papua Pegunungan. Rangkaian perkembangan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional antara kebebasan menyampaikan aspirasi politik, penegakan hukum, dan upaya pemerintah mempercepat pembangunan Papua. Pada 23 September, kelompok West Papua Campaign-USA (WPC-USA) yang disebut dipimpin Merius Wenda menyampaikan aspirasi di kawasan Second Avenue dan Dag Hammarskjöld Plaza, New York. Berdasarkan informasi yang dihimpun, peserta membawa poster kritik terhadap Pemerintah Indonesia dan atribut Bintang Kejora serta menyerukan perhatian internasional terhadap persoalan Papua. Aksi berlangsung bertepatan dengan rangkaian Sidang Majelis Umum PBB ke-81. UNGA 81 sendiri resmi dibuka pada 8 September, sementara General Debate berlangsung pada 22–28 September 2026. Penyampaian aspirasi tersebut merupakan aktivitas di ruang publik dan tidak dengan sendirinya menjadi bagian dari agenda resmi ataupun keputusan Sidang Majelis Umum PBB. UNGA merupakan forum 193 negara anggota untuk membahas berbagai persoalan internasional, sedangkan isu yang disampaikan dalam demonstrasi di sekitar markas PBB perlu dibedakan dari agenda formal persidangan. Indonesia sendiri berpartisipasi dalam General Debate UNGA 81 melalui Menteri Luar Negeri Sugiono pada 26 September 2026. Di dalam negeri, perkembangan politik tersebut beriringan dengan penguatan pengawasan keamanan di Papua. Pada 22 September, Satgas Yonif 462 Kopasgat bersama unsur terkait mengamankan paket mencurigakan di Gudang Kargo Trigana Air Bandara Wamena. ANTARA melaporkan paket yang dikirim dari Sentani itu berisi satu senapan angin kaliber 4,5 milimeter, optik teleskop, peredam, pisau karambit, bendera Bintang Kejora, pakaian loreng, serta tiga telepon genggam. Pemilik paket, Weminus Wandik, diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan barang bukti diserahkan kepada kepolisian. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan jalur transportasi tanpa serta-merta menggeneralisasi aktivitas politik sebagai tindakan kriminal. Aparat menyatakan penyelidikan dilakukan untuk mengetahui asal-usul barang, tujuan penggunaannya, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Dengan demikian, penanganannya tetap harus didasarkan pada barang bukti dan proses hukum. Informasi mengenai temuan lain yang disebut berkaitan dengan DPO Martinus Mote di Deiyai masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Pengawasan kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini juga menjadi perhatian. PLBN Skouw sebelumnya telah beberapa kali menemukan amunisi dalam pemeriksaan pelintas. Pada Maret 2026, misalnya, BNPP secara resmi mencatat petugas Bea Cukai menemukan dua butir peluru shotgun kaliber 12 gauge milik seorang warga Papua Nugini melalui pemeriksaan X-Ray. Informasi mengenai temuan dua butir amunisi kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm pada 24 September yang disebut melibatkan WNA PNG bernama Waso Esron masih perlu diperlakukan sebagai informasi awal karena belum ditemukan konfirmasi terbuka dari sumber resmi yang setara. Menjelang 30 September, aktivitas kelompok Komite Nasional Papua Barat (KNPB) juga dilaporkan meningkat di Wamena dan sejumlah daerah. Informasi yang beredar menyebut adanya diskusi, penggalangan dana, pemberitahuan demonstrasi, dan seruan aksi untuk memperingati apa yang disebut sebagai Rome Agreement . Penyampaian pendapat secara damai merupakan bagian dari kehidupan demokratis, namun kegiatan tersebut tetap perlu berlangsung sesuai ketentuan hukum serta menghindari kekerasan, intimidasi dan tindakan yang membahayakan masyarakat. Dalam memahami perdebatan sejarah Papua, penting pula membedakan Rome Agreement yang...

Westnoken.id