BPS Soroti Peran Pangan Lokal dalam Menekan Pengeluaran Masyarakat Papua Tengah
BPS Kabupaten Nabire menyarankan pemanfaatan pangan lokal seperti umbi-umbian sebagai alternatif beras untuk menekan...
Dalam upaya mengurangi beban pengeluaran masyarakat Papua Tengah, khususnya di wilayah perkotaan, pemanfaatan pangan lokal seperti umbi-umbian dianggap sebagai alternatif yang efektif. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire, beras menjadi komoditas utama yang menyumbang garis kemiskinan dengan porsi sebesar 15,66 persen per Maret 2026. Kepala BPS Kabupaten Nabire, Dio B.P. Ginting, menyampaikan bahwa tingginya kontribusi beras terhadap garis kemiskinan menunjukkan ketergantungan masyarakat berpendapatan rendah pada komoditas ini. Oleh sebab itu, diversifikasi sumber pangan dengan mengoptimalkan pangan lokal dapat membantu menyesuaikan pengeluaran kebutuhan pokok keluarga. Selain beras, rokok kretek filter juga menjadi pengeluaran signifikan yang memengaruhi garis kemiskinan di perkotaan, dengan kontribusi sebesar 8,53 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pengeluaran rumah tangga masih dialokasikan pada konsumsi di luar kebutuhan pangan utama. Dio menegaskan bahwa kebutuhan karbohidrat tidak harus sepenuhnya dipenuhi oleh beras. Umbi-umbian sebagai bagian dari pangan lokal dapat menjadi alternatif yang layak untuk memenuhi konsumsi sehari-hari. Pemerintah juga disarankan untuk melakukan sosialisasi agar masyarakat lebih mengenal dan mengadopsi pangan lokal sebagai makanan pokok. Stabilitas harga beras juga menjadi perhatian penting agar tidak semakin memberatkan pengeluaran rumah tangga. Dengan harga yang lebih stabil dan pilihan pangan yang beragam, masyarakat dapat mengelola belanja kebutuhan pokok dengan lebih baik. BPS menggunakan pendekatan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar dalam mengukur kemiskinan, dengan standar kebutuhan minimum makanan setara 2.100 kilokalori per kapita per hari. Pada Maret 2026, garis kemiskinan Papua Tengah tercatat sebesar Rp905.417 per kapita per bulan. Jika satu rumah tangga terdiri dari empat orang, kebutuhan minimum keluarga mencapai sekitar Rp3,62 juta per bulan. Data BPS juga menunjukkan persentase penduduk miskin di Papua Tengah mencapai 30,41 persen atau sekitar 321,28 ribu orang pada periode tersebut. Sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah perdesaan, yaitu 310,05 ribu orang, sementara 11,23 ribu orang berada di perkotaan. Dio menambahkan bahwa pengalihan sebagian pengeluaran dari rokok ke kebutuhan dasar lain dapat membantu meningkatkan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kenaikan harga rokok saat ini menjadi pertimbangan penting dalam pengelolaan anggaran rumah tangga. Dengan demikian, dua langkah strategis yang dapat diterapkan oleh rumah tangga adalah memperluas konsumsi pangan lokal sebagai alternatif beras dan mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan dasar keluarga. Langkah ini sangat penting terutama bagi keluarga yang pengeluarannya mendekati garis kemiskinan. Sumber ANTARA Papua Tengah
Westnoken.id