Ekonomi Papua Barat Daya Triwulan II 2026 Tumbuh 2,82 Persen

Ekonomi Papua Barat Daya Triwulan II 2026 Tumbuh 2,82 Persen

BPS mencatat ekonomi Papua Barat Daya tumbuh 2,82 persen pada triwulan II 2026 dengan sektor konstruksi dan belanja...

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa perekonomian Provinsi Papua Barat Daya pada triwulan II tahun 2026 tumbuh sebesar 2,82 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas ekonomi domestik di wilayah tersebut. Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi didorong oleh kinerja positif sektor jasa konstruksi serta peningkatan belanja pemerintah. Jika dibandingkan dengan triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi triwulan II hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,03 persen (quarter to quarter/q-to-q). Data menunjukkan bahwa volume produksi barang dan jasa riil yang tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan mencapai Rp6,62 triliun pada triwulan II 2026, naik dari Rp6,44 triliun pada triwulan I 2025. Sementara itu, nilai transaksi riil (PDRB atas dasar harga berlaku) juga meningkat signifikan menjadi Rp10,15 triliun dibandingkan Rp9,73 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan kedua indikator tersebut mengindikasikan adanya aktivitas ekonomi yang ekspansif dan produktif selama April hingga Juni 2026 di Papua Barat Daya. Hampir seluruh lapangan usaha di provinsi ini mengalami pertumbuhan positif, kecuali sektor jasa pendidikan yang justru mengalami kontraksi sebesar 0,64 persen secara tahunan. Sektor jasa konstruksi menjadi yang paling unggul dengan pertumbuhan tahunan tertinggi mencapai 7,78 persen. Selain itu, sektor jasa penyedia akomodasi dan makan minum serta jasa keuangan dan asuransi juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Sektor konstruksi memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dengan andil sebesar 0,97 persen pada triwulan II 2026. Meskipun demikian, industri pengolahan masih menjadi penyumbang utama struktur PDRB Papua Barat Daya dengan andil 17,96 persen, disusul sektor konstruksi sebesar 14,95 persen dan perdagangan sebesar 14,22 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 17,65 persen, diikuti konsumsi LNPRT 6,28 persen, pembentukan modal tetap bruto 6,25 persen, serta konsumsi rumah tangga 4,21 persen. Konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sekitar 2,76 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen terbesar dalam pembentukan PDRB dengan porsi 49,26 persen. Namun, ekspor barang dan jasa, yang menyumbang 42,90 persen terhadap PDRB Papua Barat Daya, mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 13,70 persen dibandingkan triwulan II 2025. Kendati demikian, Merry menjelaskan bahwa banyaknya proyek pembangunan serta realisasi belanja pemerintah menjadi faktor utama yang menahan perlambatan ekonomi di Papua Barat Daya. Aktivitas konstruksi yang tinggi terkait dengan pembangunan infrastruktur, perumahan, dan fasilitas publik, sementara belanja pemerintah mendorong perputaran uang di sektor jasa. Sumber ANTARA Papua Tengah

Westnoken.id