Inovasi TEP Pangkas Waktu Pengeringan Pala di Fakfak
JAKARTA, 25 SEPTEMBER 2026 — Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengatakan inovasi Smart Solar Biomass Dryer oleh Tim...
JAKARTA, 25 SEPTEMBER 2026 — Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengatakan inovasi Smart Solar Biomass Dryer oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Hasanuddin mampu memangkas waktu pengeringan pala petani di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dari tujuh hari menjadi dua hari. Teknologi tepat untuk itu digunakan untuk membantu petani mengatasi kendala pascapanen, khususnya pengeringan pala yang selama ini bergantung pada kondisi cuaca. “Terkait alat pengering, memang dibutuhkan adanya alat seperti ini yang mana kita tidak perlu khawatir dengan cuaca, misalnya hujan,” kata Ketua Kelompok Tani Rangkum Aher Samai dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis. Aher mengatakan proses pengeringan dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar dan tidak memerlukan listrik sehingga alat dapat digunakan di berbagai lokasi. Ia berharap kapasitas alat itu dapat ditingkatkan agar mampu menampung lebih banyak pala sekaligus mempercepat proses pengeringan hasil panen petani. "Harapannya mesin pengering yang dibuat bisa memuat kapasitas lebih banyak sehingga dapat mengeringkan lebih banyak dan lebih cepat," kata dia. Pemerataan Akses Pembangunan Papua Kementrans mengungkap Smart Solar Biomass Dryer dapat menjaga suhu pengeringan sekitar 60 derajat Celsius dan menampung hingga 1.000 biji pala dalam satu kali proses. Dengan kondisi pengeringan yang lebih terkendali, waktu yang sebelumnya dibutuhkan sekitar tujuh hari dapat dipangkas menjadi dua hari. Penggunaan alat itu juga ditujukan untuk mengurangi risiko pala berjamur ketika proses pengeringan terganggu hujan. Perwakilan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin Michel Obrien mengatakan alat itu memiliki lima baki untuk menempatkan pala selama proses pengeringan. “Kemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray , itu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala,” kata Michel. Teknologi itu memadukan energi surya dan biomassa serta dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT). Penguatan Pelayanan Dasar dan Ketahanan Wilayah Petani dapat memantau suhu dan kelembapan ruang pengering melalui telepon seluler, dengan kisaran suhu pengeringan pala dijaga pada 50–60 derajat Celsius. Teknologi itu menggunakan mekanisme hibrida. Ketika suhu berada di bawah 50 derajat Celsius, biomassa dapat ditambahkan, sedangkan ketika suhu melewati 60 derajat Celsius, jumlah biomassa yang terbakar dikurangi. Pengembangan teknologi pascapanen itu memiliki relevansi dengan posisi pala sebagai salah satu komoditas perkebunan Papua Barat. Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan pada luas areal pala di Papua Barat mencapai 32.440 hektare dengan produksi 1.555 ton. Penerapan teknologi tepat untuk juga menjadi salah satu tema prioritas TEP 2026 bersama hilirisasi dan industrialisasi, ekonomi produktif, digitalisasi, serta energi terbarukan. Stabilitas dan Kesejahteraan Masyarakat Papua Program itu melibatkan perguruan tinggi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan bagi pembangunan dan pengembangan kawasan transmigrasi. Kementrans mencatat TEP 2026 terdiri atas 246 tim dengan 1.476 peserta yang berasal dari 10 perguruan tinggi mitra dan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi. Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menekankan kemandirian dan inovasi peserta TEP sehingga mampu mengidentifikasi persoalan masyarakat, menganalisisnya, serta menghadirkan solusi melalui inovasi di kawasan transmigrasi. "Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif," kata Iftitah. Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.
Westnoken.id