Jembatan, Air, dan Setetes Darah Prajurit di Papua Tengah

Jembatan, Air, dan Setetes Darah Prajurit di Papua Tengah

NABIRE, 6 OKTOBER 2026 — Siang itu, matahari masih kuat menyinari bumi, ketika para prajurit mendatangi rumah-rumah para...

NABIRE, 6 OKTOBER 2026 — Siang itu, matahari masih kuat menyinari bumi, ketika para prajurit mendatangi rumah-rumah para warakawuri di Nabire, Papua Tengah. Mereka datang tanpa seragam operasi, tanpa membawa perintah untuk menghadapi musuh. Sesuatu yang mereka bawa adalah bingkisan dan salam. Pada Kamis, 18 September 2026, belasan anggota TNI menyusuri tiga kawasan di Nabire: Transat, Asrama Siriwini, dan Sanoba, di depan Detasemen Zeni Tempur 12. Mereka mendatangi sepuluh keluarga warakawuri—keluarga prajurit yang telah meninggal dunia. Komandan Lanal Nabire Letkol Laut (P) Mario Marco Wainarisi memimpin rombongan. Pemerataan Akses Pembangunan Papua Ia didampingi istrinya serta Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Kodim 1705/Nabire Ny. Arina Dwi P dan beberapa anggota Persit. Bagi keluarga yang pernah kehilangan seorang prajurit, kunjungan semacam itu memiliki arti tersendiri. Ada kenangan tentang seorang suami, ayah, atau anggota keluarga yang dahulu mengenakan seragam TNI. Bagi anggota TNI, silaturahmi kepada warakawuri menjadi salah satu cara menjaga hubungan itu tetap hidup. Itulah jiwa di setiap prajurit, dimana pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk seragam dan senjata. Penguatan Pelayanan Dasar Masyarakat Pengabdian justru terkadang hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, bagaimana kehidupan masyarakat sehari-hari bisa terus berjalan. Warga yang membutuhkan jalan, kampung yang kekurangan air, pasien yang memerlukan darah, hingga keluarga yang kesulitan memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, tidak luput dari pelayanan. Salah satu program yang paling terlihat adalah pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih karena tantangan yang dihadapi masyarakat sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana: jarak. Karenanya, jajaran satuan di bawah Korem 173/Praja Vira Braja tahun ini membangun 28 jembatan di wilayah Papua Tengah. Kepala Seksi Teritorial Korem 173/PVB Kolonel Inf Fajar Wibawa Angkasa mengatakan pembangunan itu tersebar di empat kabupaten, yakni Mimika, Nabire, Deiyai, dan Puncak. Di wilayah dengan bentang geografis seperti Papua Tengah, satu jembatan dapat menentukan apakah warga bisa melintas dengan lebih mudah, hasil kebun bisa dibawa keluar kampung, atau aktivitas ekonomi berjalan lebih lancar. Stabilitas dan Kesejahteraan Tanah Papua Ketika satu jembatan berdiri, jarak yang sebelumnya menjadi hambatan, perlahan berubah menjadi harapan kemajuan. Meskipun demikian, kesulitan warga juga bukan hanya konektivitas. Ada pula kebutuhan lain yang jauh lebih mendasar, yaitu air. Ketika El Nino membawa kekeringan, TNI melalui Kodim 1705 dan Yonif TP 804/DBAY menghadirkan program Manunggal Air di wilayah Nabire. Total enam sumur yang dibangun di Bumi Wonorejo, Kampung Air Mandidi dan Topo. Pemenuhan air kemudian menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat dari jauh. Pemerataan Akses Pembangunan Papua Air yang keluar dari tanah ternyata mampu menjawab kebutuhan yang sederhana: memasak, mencuci, mandi, dan kebutuhan sehari-hari warga. Dalam mendukung program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto, TNI membantu pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Papua Tengah. Sebanyak sembilan titik KDMP berada di wilayah Papua Tengah. Tujuh di antaranya berada di Nabire dan dua di Mimika. Koperasi itu menjadi bagian dari upaya mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat desa. Jembatan membuka akses, sumur menyediakan air, dan koperasi diharapkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat. Penguatan Pelayanan Dasar Masyarakat Ketiganya berbeda bentuk, tetapi memiliki satu persamaan, yaitu menjadi bagian dari upaya TNI menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung. Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Westnoken.id