Transportasi Jadi Penyumbang Utama Inflasi Tahunan di Papua Barat Juli 2026

Transportasi Jadi Penyumbang Utama Inflasi Tahunan di Papua Barat Juli 2026

BPS Papua Barat mencatat inflasi tahunan Juli 2026 sebesar 5,47 persen dengan kelompok transportasi sebagai penyumbang...

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mengungkapkan bahwa pada Juli 2026, inflasi tahunan di wilayah tersebut mencapai 5,47 persen. Kelompok transportasi menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi tersebut. Kepala BPS Papua Barat, Merry, menjelaskan bahwa indeks harga kelompok transportasi mengalami kenaikan signifikan sebesar 18,60 persen. Kenaikan ini memberikan andil sebesar 2,26 persen terhadap inflasi umum di Papua Barat. Menurut Merry, tarif angkutan udara dan harga bensin merupakan komoditas utama yang mendorong kenaikan harga di kelompok transportasi. Selain itu, beberapa komoditas lain seperti beras, ikan tuna, serta emas perhiasan juga turut menyumbang inflasi. Selain kelompok transportasi, kenaikan indeks harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi sebesar 1,44 persen terhadap inflasi. Kelompok restoran dan perawatan pribadi juga berperan dengan andil masing-masing 0,50 persen dan 0,42 persen. Di sisi lain, kelompok pendidikan mengalami deflasi tahunan sebesar 2,37 persen yang memberikan andil negatif sebesar -0,11 persen. Penurunan harga pada kelompok ini membantu menahan laju inflasi agar tidak semakin tinggi di Papua Barat. Merry menambahkan bahwa meskipun inflasi tahunan pada Juli 2026 tercatat 5,47 persen, angka ini lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 6,99 persen. Namun, inflasi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang hanya sebesar 0,43 persen. Dari sisi bulanan, BPS mencatat Papua Barat mengalami deflasi sebesar 0,20 persen pada Juli 2026. Deflasi ini terutama disebabkan oleh penurunan indeks harga pada kelompok transportasi dan kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga. Beberapa komoditas utama yang menyumbang deflasi bulanan antara lain angkutan udara, ikan tuna, tomat, solar, dan ikan layang (momar). Sementara itu, komoditas seperti bensin, cabai rawit, sigaret kretek, sayur kangkung, dan biaya kuliah menjadi penahan laju deflasi. Merry mengungkapkan bahwa pada bulan sebelumnya, yaitu Juni 2026, Papua Barat justru mengalami inflasi bulanan sebesar 1,59 persen, sehingga kondisi deflasi di bulan Juli menjadi perhatian tersendiri bagi pengamat ekonomi di daerah tersebut. Sumber ANTARA Papua Tengah

Westnoken.id